Bappeda Provinsi Bali bekerjasama dengan Siap Siaga menggelar Lokakarya Penyusunan Rencana Strategis Perangkat Daerah: Penerjemahan Sasaran Resiliensi terhadap Bencana dan Perubahan Iklim bertempat di Sudamala Resort Sanur, yang berlangsung 27-29 Agustus 2025.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali, I Wayan Wiasthana Ika Putra menekankan pentingnya kolaborasi antar perangkat daerah terkait mitigasi bencana dan perubahan iklim, karena erat keterkaitannya dengan sektor lain. Untuk itu sangat penting menyinkronkan program mitigasi bencana antar perangkat daerah dalam rencana strategis.

Belajar dari Covid-19 yang menunjukkan ketergantungan ekonomi Bali pada sektor pariwisata, mengubah persepsi pentingnya resiliensi Bali terhadap bencana. Menurutnya penting mengintegrasikan aspek kebencanaan dalam perencanaan pembangunan, khususnya dalam penyusunan dokumen Renstra perangkat daerah. Mitigasi bencana bukan hanya mengandalkan BPBD yang menangani hilirnya saja, namun semua perangkat daerah juga turut mempertimbangkan mitigasi bencana melalui program-program dinas terkait.
Ika Putra mencontohkan semisal terjadi tanah longsor, bisa jadi karena kurangnya reboisasi, kurangnya penataan irigasi yang baik, atau infrastruktur lain yang dapat mengurangi risiko bencana. Untuk itu pihaknya mendorong perangkat daerah untuk memasukkan aspek ketahanan bencana dan perubahan iklim ke dalam dokumen Renstra yang sedang disusun. “Saya mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam perencanaan pembangunan yang memperhatikan aspek resiliensi bencana dan perubahan iklim ini,” jelasnya.
Sependapat hal itu, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia juga menekankan pentingnya harmonisasi dan koordinasi dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan khususnya terkait aspek penanggulangan bencana dan perubahan iklim. Terbukti bencana bisa menyebabkan kurangnya resiliensi ekonomi Bali yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pariwisata. Pihaknya juga mendorong agar dokumen Renstra yang sedang disusun dapat mengintegrasikan aspek ketahanan terhadap bencana dan perubahan iklim.
Pada kesempatan itu menghadirkan narasumber Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas, Medrilzam yang mengingatkan agar risiko bencana dapat diantisipasi dalam lima tahun kedepan. Medrilzam menjelaskan tentang hubungan antara Indeks Risiko Bencana dan Indeks Ketahanan Bencana, dimana semakin kuat “coping capacity” (kapasitas mengatasi) akan semakin mengurangi risiko bencana. Juga terkait Indeks Ketahanan Daerah yang harus dilihat secara menyeluruh, karena terkait dengan resiliensi keseluruhan dari suatu daerah.
Kepala Pusdiklatrenbang, Wignyo Adiyoso menyampaikan beberapa poin penting. Selain memberikan pengantar terkait Logic Model Perencanaan Pembangunan di Indonesia, juga disampaikan pentingnya perencanaan pembangunan sebagai tahap awal atau “hulu” dalam siklus pembangunan. Konsep alur perencanaan pembangunan dari nasional ke daerah dan harmonisasi dokumen perencanaan 20 tahunan hingga tahunan. Pihaknya menyoroti permasalahan dalam perencanaan dan penganggaran, termasuk ego sektoral dan koordinasi pusat-daerah yang masih perlu diperbaiki.
Kebijakan penanggulangan bencana dan perubahan iklim sudah secara eksplisit tertuang dalam dokumen RPJPN, RPJMN, dan RKP. Untuk itu perlunya penyelarasan, sinkronisasi dan sinergi antar OPD dalam mencapai indikator kinerja. Disampaikan pula pembahasan lebih detail tentang cara mengintegrasikan isu penanggulangan bencana dan perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah oleh Didik Sri Mulyono, Praktisi Perencanaan dan Tata Kelola PB/PI.
Narasumber lainnya Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali menyampaikan beberapa poin penting tentang Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD-API) sebagai referensi penyusunan Renstra dan RKP OPD. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali yang menekankan pentingnya integrasi perencanaan kebencanaan ke dalam perencanaan pembangunan. Pihaknya menekankan fokusnya adalah pada pengurangan risiko, bukan pencegahan peristiwanya. (Krisna – Prahum).